Home / Earth Science / Sejarah Bumi / Zaman Kwarter Dan Zaman Es

Zaman Kwarter Dan Zaman Es

Setelah Zaman Tersier maka disusul dengan Zaman Kwarter yang diawali dengan Kala Pleistosen dan berakhir dengan Kala Holosen. Pada Kala Pleistosen bariyak bagian dunia ini yang dilanda lapisan es yang cukup tebal. Oleh sebab itu zaman ini disebut sebagai Zaman Es atau Zaman Diluvium.

Es yang berada di puncak-puncak gunung yang tinggi meluas ke lereng serta lembah-lembah sekitarnya. Sebagai akibatnya maka flora dan fauna yang menempati daerah tersebut akan punah atau terpaksa harus pindah ke daerah yang tidak dapat dicapai oleh lapisan es. Dengan demikian akan terjadi migrasi secara besar-besaran dari daerah yang terserang oleh es ke daerah yang bebasdari lapisan es yaitu ke daerah yang lebih panas. Fauna dan flora yang tidak mungkin menghindarkan diri dari kedinginan es akan punah, dan inilah sebetulnya salah satu pembatas antara Zaman Tersier ke Pleistosen, ditandai dengan lenyapnya fauna dan flora tertentu atau terjadi spesies baru ataupun varietas baru yang disebabkan oleh evolusi fauna tersebut sebagai akibat penyesuaian diri atas pergantian lingkungan.

Meluasnya lapisan es dikarenakan air di bumi lebih banyak membeku serta menjadi es sehingga menyebabkan permukaan air laut menurun. Sebagai akibat lanjutannya banyak bagian laut yang dangkal menjadi kering dan berubah menjadi daratan yang menyambung daratan yang telah ada sebelumnya sehingga seolah-olah menjadi jembatan alam. Melalui tempat-tempat ini migrasi fauna atau flora terjadi dari benua yang satu ke benua yang lain dalam jangka waktu ratusan ribu tahun selama Zaman Pleistosen.

Sebagai contoh di Asia Tengah fauna Vertebrata dari India Utara pindah di antaranya ke arah timur, kira-kira mengambil jalan sejajar dengan lereng-lereng selatan Pegunungan Himalaya pada Zaman Kwarter. Pada Zaman Kwarter, fauna tersebut akhirnya sampai di Birma dan dari sini ada jalan migrasi ke arah timur dan timur laut akhirnya sampai ke daratan Tiongkok dan terus langsung ke Jasirah Korea. Dari tempat ini jalan migrasi bercabang, dan yang satu melewati jembatan daratan menyeberangi Selat Bering sampai di Alaska untuk kemudian terus langsung menyebar ke daratan Amerika Utara dan juga Amerika Selatan dengan melalui jembatan daratan Panama. Jalan migrasi lainnya mulai dari Korea melewati jembatan dåratan akhirnya sampai di Jepang terus Taiwan, Philipina dan akhirnya sebagian tiba di Sulawesi dan sebagian lain tiba di Kalimantan. Jalan migrasi yang menuju selatan dan tenggara mulai dari Birma melalui Malaya ke Jawa dan sebagian membalik ke arah Sumatra dan Kalimantan. Ada pula jalan migrasi dari Asia dan Eropa ke Afrika melalui selat Jibraltar, dan Jasirah Sinai dan Suez.

Di daerah iklim dingin dapat dibedakan 4 zaman es besar yaitu Zaman Es Gunz Mindel, Riss dan Wurm. Zaman-zaman es yang besar ini yang disebut Pula sebagai zaman glasial, diselingi oleh 3 zaman interglasial dengan iklim Yang relatif panas. Di dalam zaman glasial ini pula didapatkan zaman yang relatif Panas yang pendek yang disebut sebagai zaman interstadia. Tanda-tanda adanya zaman es itu jelas dapat dilihat di Benua Amerika Utara, Eropa Barat, Rusia, Australia, Afrika Selatan, India dan daerah-daerah kecil lainnya yang letaknya berdekatan dengan gunung-gunung yang tinggi. Akibat dari Zaman Es ternyata pengaruhnya di Indonesia nyata. Hal ini jelas mengakibatkan terjadinya pulau-pulau ataupun daratan yang relatif luas bila dibandingkan dengan zaman sebelumnya.

Dalam Zaman Kwarter Pleistosen wilayah Indonesia dapat dibagi menjadi 3 bagian yaitu di Barat yang merupakan paparan Sunda dan di timur yang merupakan Paparan Sahul dengan kedalaman dasarnya yang hampir merata, sedangkan di tengahnya terdiri dari laut dalam berjalan dari tempat antara Philipina dan kepulauan Talaud, serta antara Sulawesi dan Kalimantan terus memanjang ke selatan ke tempat sebelah timur Kepulauan Kangean dan langsung ke selatan Pulau Lombok. Garis pantai timur Paparan Sunda kira-kira jatuh bersamaan dengan apa yang disebut sebagai Garis Wallace, yaitu suatu garis batas zoogeografi yang penting di Indonesia. Sebelah barat Garis Wallace ini antara lain yang termasuk Pulau Sumatra, Jawa dan Kalimantan faunanya mempunyai sifat Asia sedangkan di sebelah timur Garis Wallace antara lain
yang termasuk Sulawesi, Nusa Tenggara dan Irian mempunyai sifat Australia.

Dengan ditemukannya data yang baru, letak garis ini berubah-ubah, yaitu yang kemudian berubah menjadi garis Wallace (Huxley), Garis Weber (Pelsencer), ataupun Garis Weber (keseimbangan Fauna), maupun garis batas fauna Australia-Papua. Bagaimanapun juga perubahannya, namun garis-garis tersebut tetap merupakan batas propinsi zoogeografi pada waktu sekarang sebagai akibat dari penyebaran fauna di Zaman Pleistosen melalui daratan-daratan dan jembatan-jembatan daratan pada waktu itu.

Dari penyelidikan-penyelidikan yang dilakukan pada tahun-tahun yang terakhir terbukti bahwå garis Wallace tersebut tidaklah menjadi batas propinsi fauna Zaman Kwarter Pleistosen, tetapi hanya berlaku bagi Zaman Holosen. Hal ini terbukti dengan ditemukannya Stegodon trigonocephalus florensia Hooijer di Flores pada tahun 1957, Stegodon timorensis Sartono di Pulau Timor pada tahun 1964. Penyelidikan yang dilakukan oleh Dr. R.P. Soejono bekerjasama dengan Prof. Dr. S. Sartono di Pulau Sumba pada tahun 1978 telah ditemukan fosil rahang bawah dari Stegodon. Penyelidikan yang dilakukan oleh Dr.Sukandarrumidi bekerja sama dengan dr. Agus Suprijo dan Dr. R. P. Soejono di daerah Tasifeto, Timor pada tahun 1993 ditemukan gading dan rahang Stegodon menambah bukti tersebut. Penyelidikan yang dilakukan pada tahun itu juga di Desa Berru, Cabengen, Sulawesi Selatan oleh Rokhus Dua Awe telah mendapatkan gigi Stegodon, sedang pada tahun sebelumnya diketemukan fosil babirusa, kijang, kura-kura dengan diameter 2 meter. Hal-hal tersebut menunjukkan bahwa terutama binatang Stegodon yang asalnya dari India Utara di daerah Siwalik melalui Birma dan Malaya tidak hanya berhenti di Jawa seperti diperkirakan semula tetapi melalui jembatan di Nusa Tenggara sampai pula di Flores dan Timor, bahkan yang dari utara yang semula diperkirakan berhenti di Kalimantan menerus hingga sampai di Sulawesi Selatan, yang diduga melalui jembatan Birma-Tiongkok, melalui Korea, Jepang, Taiwan dan Philipina sampai pula di Sulawesi.

Zaman Kwarter Dan Zaman Es

Apakah spesies-spesies Stegodon dan jenis binatang yang lain yang melalui jalan Malaya dan yang melalui jalan Jepang-Philipina akhirnya saling bertemu lagi di Paparan Sunda, sampai sekarang belum dapat diketahui dengan pasti.

Dengan lewatnya Zaman Wurm, maka berakhirlah yang kemudian menyusul Zaman Holosen. Zaman selama manusia hidup sekarang ini merupakan sebagian dari Zaman Holosen. Zaman ini disebut pula Zaman Post-Glasial.

Tanda-tanda yang ditinggalkan oleh zaman es yang terakhir yaitu Zaman Wurm paling jelas dapat dilihat dengan terbentuknya undak-undak sepanjang Sungai Bengawan Solo pada tempat penerobosannya melalui Pegunungan Kendeng. Dalam undak-undak tersebut ditemukan fauna Vertebrata Ngandong serta manusia Homo soloensis yang hidup pada zaman itu di daerah tersebut. Undak-undak sungai itu terjadi pada waktu penurunan permukaan air laut, bersamaan dengan pengunduran pantai lautan. kejadian tersebut mengakibatkan pula pengikisan lebih lanjut terhadap Paparan Sunda dan Paparan Sahul yang
sebelumnya telah terkena proses-proses serupa dalam Zaman Gunz, Mindel dan Riss.

Dalam Zaman Post-Glasial es mencair kembali, akibat dari itu permukaan air laut naik, termasuk di Kepulauan Indonesia. Hal tersebut mengakibatkan Pula tergenangnya kembali Paparan Sunda oleh Laut Jawa serta Laut Cina Selatan dan juga terbenamnya Paparan Sahul oleh Laut Arafuru, dan pula makin dalamnya laut di daerah Maluku. Dengan demikian maka daratan-daratan Indonesia yang ada pada waktu zaman es Wurm terpecah-pecah serta terbagi-bagi oleh lautan yang terjadi pada Zaman Post-Glasial sehingga mengakibatkan penyebaran dan bentuk kepulauan Indonesia seperti sekarang. Demikian pembahasan tentang Zaman Kwarter Dan Zaman Es, baca juga pembahasan lainnya di www.majalahbatu.com

About Abdi Maulana

Seorang ahli Teknik Geologi dan sangat senang bekerja didepan komputer. Membagi ilmu kepada orang lain merupakan kesenangan tersendiri. Gemar dengan software pemetaan dan terbiasa dengan software - software Geo. WORK EXPERIENCE : Jun 2012 - Sep 2012 : Head GIS Asistant at STTNAS Jun 2012 - Sep 2012 : Asisten Geofisika at STTNAS Jun 2013 - Sep 2013 : Head GIS Asistant at STTNAS Jun 2013 - Sep 2013 : Asisten Geofisika at STTNAS Mar 2014 - May 2014 : Head GIS Asistant at STTNAS September 2015 – March 2016 : GIS at Global Artha Karya (Bukit Berlian Group)

Check Also

harga-gps-garmin-2017

Harga GPS Garmin 2017

Harga GPS Garmin 2017 akan dibahas pada artikel ini, bagi anda para pemburu GPS Garmin …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Seal Online