Home / Earth Science / Sejarah Bumi / Zaman Tersier Dan Perkembangannya

Zaman Tersier Dan Perkembangannya

Keadaan daerah Indonesia pada permulaan Zaman Tersier, tepatnya pada sub zaman Paleogen adalah sebagai berikut:

Kala Eosen Pada Zaman Tersier

Pada kala ini terjadi genang laut, dan pada saat ini awal terjadinya cekungan pengendapan Zaman Tersier. Dari arah barat laut masuk dan terbentuklah Geosinklin Birma yang terus bersambung dengan Geosinklin Sumatra-Jawa.

Dari arah utara keadaan yang sama berlaku pula sehingga membentuk geosinklin Sunda yang bersambung dengan Geosinklin Philipina, Geosinklin Mariana dan Geosinklin Papua. Di antara Geosinklin Papua dan Geosinklin Jawa dihubungkan oleh suatu laut sempit yang letaknya berada di sebelah timur pulau Timor. Di tempat yang merupakan daerah pelamparan geosinklin tersebut secara setempat-setempat didapatkan batuan yang berumur Eosen.

Endapan yang berumur Eosen tersebut di Jawa didapatkan di daerah Jampang dan Banten di Jawa Barat, Luk Ulo, Pegunungan Kulon Progo dan perbukitan Jiwo di Jawa Tengah. Khususnya di daerah Sangiran bukti adanya endapan Eosen dapat dikenal dengan adanya fragmen batugamping yang mengandung fosil Numulites yang keluar bersama-sama dengan mud volkano.

Di Sumatra endapan Zaman Tersier Eosen didapatkan di pegunungan Tengah di Aceh daerah Talawi dan Simpang di sekitar Danau Singkarak di Sumatra tengah sedang di Sumatra selatan sampai sekarang tidak ditemukan. Di Kalimantan tersebar secara setempat-setempat, baik di Kalimantan tenggara, timur dan utara, yang semuanya berkembang sebagai sedimen klastik, dengan fosil yang menunjukkan umur Eosen.

Di Sulawesi endapan yang usianya sama tersebar di banyak tempat, baik di Jasirah Tangan Timur, Jasirah Utara, Jasirah Sulawesi Selatan yang semuanya berkembang sebagai sedimen klastik dari yang berbutir kasar sampai yang berbutir halus dengan fosil Asilina, Camerina dan Discocyclina yang menunjukkan Umur Eosen. Di Pulau Buton endapan Eosen terdapat di Pegunungan Tobelo sepanjang Sungai Wani, yang dikenal sebagai Forrnasi Wani.

Di Nusa Tenggara, endapan yang berumur Zaman Tersier Eosen dapat dijumpai di pulau Seram, Laut, Manaweka, Kur, Fadoh, Babar, Sermata, Leti, Kai, Halmahera, Waigeo, Misool, Tidore, Tanimbar dan pulau Buru serta pulau Timor dan pulau kecil di sekitarnya. Kesemuanya berkembang sebagai sedimen klastik dengan fosil Asilina dan Discocyclina sebagai penunjuk umur Eosen.

Zaman Tersier Dan Perkembangannya

Di Irian endapan Eosen didapatkan di wilayah Pegunungan Jayawijaya mulai dari Jasirah Kepala Burung sampai ujung timur yang berkembang sebagai batugamping Formanifera dan di daerah sepanjang pantai utara Pulau Irian yang berkembang sebägai batugamping klastik.

Dari pelamparan endapan Eosen tersebut maka dapat diperkirakan paleogeografi Indonesia, dimana daerah Sumatra tengah dan selatan serta Kalimantan barat, bagian pulau di Nusa Tenggara merupakan daratan, yang dikenal sebagai daratan Sunda. Sebagian Kalimantan utara, Philipna dan Jasirah Tangan utara Sulawesi merupakan daratan yang dikenal sebagai daratan Philipina. Demikian juga sebagian pantai utara Irian dan Australia yang masing-masing merupakan daratan Papua dan daratan Australia.

Kala Oligosen Pada Zaman Tersier

Apabila Eosen merupakan kala dengan genang laut, maka Oligosen akan dicirikan oleh adanya susut laut yang di beberapa daerah berhubungan dengan pengangkatan dan pembentukan pegunungan yang terjadi di seluruh dunia. Seperti halnya pada awal Zaman Tersier, pada kala ini dari arah barat laut masuk dan terbentuklah Geosinklin Birna yang terus bersambung dengan Geosinklin Sumatra-Jawa. Dari arah utara keadaan yang sama berlaku pula sehingga membentuk Geosinklin Philipina yang bersambung dengan Geosinklin Mariana dan Geosinklin Papua. Di antara Geosinklin Papua dan Geosinklin Sumatra-Jawa dihubungkan oleh laut sempit yang merupakan Geosinklin Westralia yang pada Kala Eosen belum bersifat sebagai geosinklin. Di tempat yang merupakan daerah pelamparan geosinklin tersebut secara setempat-setempat didapatkan batuan yang berumur Zaman Tersier Oligosen.

Endapan yang berumur Zaman Tersier Oligosen tersebut di Jawa didapatkan berkembang sebagai endapan volkanik yang penyusunnya sebagian bersifat andesit, dasit atau tonalit. Di daerah Banten telah didapatkan satu seri stratigrafi yang dikenal sebagai Formasi Cijengkol Bawah yang terdiri dari konglomerat dan batupasir dengan unsur Andesit Tua serta sisipan arang. Sisipan yang sangat Jarang terdapat ini ternyata mengandung fosil Cycloclypeous koolhoveni yang menunjukkan bahwa kadang-kadang daerah ini tergenang oleh laut. Di daerah Bandung, dekat Rajamandala, endapan Zaman Tersier Oligosen berkembang sebagai lempung dan batupasir yang mengandung fosil Camerina ficteli intermedia yang merupakan endapan laut secara keseluruhan.

Di Sumatra endapan Zaman Tersier Oligosen berkembang sebagai konglomerat dan batupasir dengan penyebaran yang tidak teratur. Batuan ini di Sumatra selatan, tengah dan barat rupa-rupanya sebagai endapan darat, sedang.di Aceh dan Tanah Gayo tcrjadi dalam laut yang dangkal di mana geosinklin tersebut telah terbentuk semenjak Kala Eosen dan terus berfungsi sebagai geosinklin pada Kala Oligosen.

Di cekungan Umbilin yang merupakan cekungan antar gunung tersusun dari breksi dan batupasir arkose serta serpih yang diendapkan dalam danau yang besar. Seri stratigrafi tersebut dikenal sebagai Formasi Batupasir Kwarsa yang untuk sebagian berumur Zaman Tersier Oligosen dan banyak mengandung batubara sehingga menyebabkan cekungan Umbilin menjadi terkenal. Lebih ke utara lagi yaitu di Tanah Gayo terdapat batupasir yang serupa dengan sisipan yang mengandung Camerinafichteli intermedia sehingga disimpulkan batuan tersebut diendapkan dalam lingkungan laut dan berumur Oligosen.

Di Sumatra Selatan dan Palembang agaknya tidak didapatkan endapan Zaman Tersier Oligosen. Daerah-daerah itu mungkin merupakan daratan pada Kala Oligosen.

Di Sulawesi Timur pengendapan gampingan yang mulai dalam Eosen berlangsung terus selama Zaman Tersier kala Oligosen walaupun tebalnya tidak seberapa.

Di Sulawesi tenggara tidak terdapat endapan Zaman Tersier Oligosen dan mungkin pada waktu itu merupakan daerah yang terangkat. Demikian pula daerah Sulawesi Tengah.

Di Sulawesi Selatan pengendapan gampingan yang mulai dalam Kala Eosen berlangsung terus. Formasi Wani di Buton utara mungkin sebagian berumur Oligosen. Sifat konglomerat pada formasi ini menunjukkan adanya daratan yang ada di dekatnya. Daerah Sulawesi Utara mungkin juga merupakan daratan yang terangkat.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pada Kala Oligosen terjadi susut laut dalam suatu lajur yang meliputi Pegunungan Selatan di Pulau Jawa yang melanjut melalui Timor, Maluku Selatan, Seram dan Buru. Selama kala Oligosen lajur panjang dan sempit ini tidak hanya terangkat, tetapi sebagian terlipat pula, karena endapan Miosen terletak tidak selaras bersudut di atas endapan Eosen.

Kala Miosen Pada Zaman Tersier

Apabila pada kala Oligosen dicirikan oleh adanya susut laut maka pada Kala Miosen sebagian besar dicirikan oleh adanya genang laut, di samping makin bertambahnya kegiatan volkanisme. Pola penyebaran geosinklin pada kala ini relatif tidak berubah bila dibandingkan dengan selama kala Oligosen.

Hanya sebagai akibat adanya genang laut terjadi perluasan Geosinklin Sumatra-Jawa ke arah utara Pulau Jawa dan ke arah timur Pulau Sumatra, sehingga pelamparan daratan Sunda menjadi berkurang. Kejadian serupa terdapat pula di bagian Indonesia Timur di mana Geosinklin Papua bertambah pelamparannya ke arah selatan, mengakibatkan berkurangnya pelamparan daratan Australia, di samping daratan Papua letaknya bergeser ke arah utara. Di daerah yang merupakan pelamparan geosinklin tersebut, secara setempat-setempat didapatkan batuan yang berumur Miosen.

Pola genang laut selama kala Miosen di Indonesia tidak sama dan dapat dibagi dalam 2 pola besar, yaitu pola Kala Miosen Bawah dan pola pada Kala Miosen Tengah dan Atas.

A. Miosen Bawah
Selama Miosen Bawah di Pulau Jawa peristiwa genang laut makin meluas dan di tempat-tempat itulah terdapat pelamparan endapan kala Miosen Bawah. Hanya di sepanjang deretan Pulau Gunung api saja tidak didapatkan endapan Zaman Tersier Miosen Bawah. Pulau-pulau itu yang merupakan geantiklin akan membagi Geosinklin Sumatra-Jawa menjadi geosinklin Pegunungan Selatan dan Geosinklin Jawa Utara dan Madura.

B. Miosen Tengah dan Atas
Genang laut yang telah mulai sejak Zaman Tersier kala Miosen Bawah mencapai Puncaknya pada Kala Miosen Tengah. Keadaan tersebut akan mengakibatkan proses sedimentasi di semua cekungan mengalami perubahan-perubahan yang nyata.

Di Jawa, di sepanjang Pegunungan Selatan terjadi genang laut dan terbentuklah endapan gamping koral dengan diselingi batuan volkanik. Hal serupa terjadi pula di Pegunungan Serayu Selatan, demikian pula di daerah Karangbolong dan Pegunungan Seribu. Di Pegunungan Serayu Selatan lebih banyak berkembang sebagai fasies volkanik sedang di daerah lain (Pegunungan Seribu dan Karangbolong) lebih banyak berkembang sebagai fasies gampingan.

Di Sumatra terjadi pula peristiwa genang laut dengan beberapa pulau gunung api menjulang di atas permukaan laut di sebelah selatan. Dalam Geosinklin Jambi dan Palembang terjadi seri sedimentasi yang dikenal sebagai Formasi Telisa, sedang di bagian utara yaitu di Aceh terbentuk batulempung hitarn yang tebal. Di Sepanjang Pegunungan Bukit Barisan sebagian besar terdiri dari endapan gunung api.

Dalam lingkungan Pegunungan Duabelas yang bersifat sebagai geosinklin dasarnya mengalami pengangkatan dan terbentuklah batas antara bagian utara dan selatan. Pada pematang ini endapannya jauh lebih tipis dibandingkan dengan endapan dalam geosinklin yang ada di sampingnya, sedang di sepanjang Pegunungan Bukit Barisan yang juga merupakan pematang bawah laut terjadilah batugamping koral dan batugamping Foraminifera yang dikenal sebagai Fasies Baturaja.

Di Kalimantan tidak terjadi genang laut tetapi malah terjadi susut laut. Suatu daerah di bagian tengah dengan kegiatan gunung api mengalami Pengangkatan perlahan-lahan demikian juga pengendapan dalam cekungan Melawai-Ketungau terhenti dan terjadilah pengikisan. Geosinklin yang ada di Kalimantan Timur mulai terbentuk endapan delta dan terjadilah lingkungan
delta yang sangat luas.

Di Sulawesi terutama di bagian cabang timurnya terjadilah peristiwa genang laut, sehingga terbentuk suatu cekungan dengan pembentukan sedimen molassa. Di Sulawesi Utara terjadi kegiatan volkanik yang hebat dengan intnsi-intrusi yang mengakibatkan terbentuknya cebakan-cebakan bijih. Di Sulawesi Tengah mungkin masih merupakan laut dangkal sedang di Sulawesi Selatan pengendapan batugamping berjalan terus.

Di Nusa Tenggara terjadi pula genang laut yang berkembang sebagai endapan volkanik gampingan. Fasies vplkanik gampingan ini dapat diikuti di Nusa Tenggara bermula dari Sumba hingga Timor. Genang laut terjadi pula di Lengkung Banda dan Misool dan berlangsung pengendapan batugamping formanifera. Paparan Sahul tergenang pula dengan endapan epikontinen terutama batugamping. Endapan yang serupa menerus hingga sampai di Kepulauan Aru dan Irian Selatan.

Di Irian dalam geosinklin di bagian utara terbentuk sebuah pematang baru, Sebagai akibatnya sekarang terbentuk 3 buah cekungan yang membujur sejajar dengan arah timur barat. Bersamaan dengan itu berlangsung kegiatan volkanik yang cukup hebat, baik di sepanjang tepi Melanesia maupun di Pematang Tua di Irian Tengah.

Selama Zaman Tersier Miosen Atas, susut laut di Indonesia mulai berlangsung di Kalimantan kemudian diikuti di bagian lain Indonesia. Di Jawa sepanjang Lengkung Sunda-Banda seluruhnya mengalami pengangkatan. Pegunungan Selatan terangkat menjadi daratan hingga sekarang, sedang di tempat lain terbentuk endapan klastik baik yang bersifat gampingan maupun volkanik.

Di Sumatra, Pegunungan Bukit Barisan mengalami pengangkatan dan berubah menjadi daratan hingga sekarang. Seperti halnya di Pulau Jawa cekungan-cekungan di Sumatra juga terbentuk endapan klastik yang cukup besar sebagai akibat pengangkatan Pegunungan Bukit Barisan yang merupakan sebuah pemisah antara geosinklin Aceh-Palembang dan Geosinklin Mentawai.

Di Cekungan Sumatra siklus genang laut yang membentuk Formasi Telisa berganti menjadi siklus susut laut dan terbentuklah Formasi Palembang, sedang di bagian tengah cekungan sedimentasi berjalan terus sehingga Formasi Telisa Atas dan Formasi Palembang Bawah hampir tidak dapat dibedakan. Sebaliknya sepanjang tepi cekungan terbentuklah endapan-endapan air payau yang menunjukkan bahwa tempat itu makin lama berubah menjadi daratan, dan di sinilah mulai terjadi endapan batubara yang kemudian dikenal sebagai batubara Bukit Asam.

Di Kalimantan terjadilah susut laut, seperti halnya di Sumatra akibat dari susut laut ini mulai terbentuklah endapan air payau yang segera diikuti dengan pembentukan endapan batubara yang kemudian dikenal sebagai lapangan batubara Tanah Bumbu.

Di Indonesia bagian timur yang meliputi Nusa Tenggara, Maluku, Irian sebelum akhir waktu ini tidak terjadi perubahan yang besar. Di Sulawesi Pengendapan dalam fasies molassa berlangsung terus. Pada akhir waktu ini mulailah terjadi perubahan yang cukup besar. Sepanjang lengkung Sunda-Banda seluruhnya terjadi pengangkatan pantai selatan pulau-pulau di Nusa Tenggara, Timor, Kai besar, Seram, Buru, Misool dan bahkan ujung timur Sulawesi terangkat semua menjadi pegunungan hingga saat ini. Pengangkatan tersebut bahkan demikian hebat sehingga di Timor, Seram dan Buru demikian pula di Sulawesi timur peristiwa tersebut disertai dengan pembentukan sesar sungkup yang cukup penting.

Kala Pliosen

Apabila pada Kala Miosen dicirikan dengan adanya genang laut di samping makin bertambahnya kegiatan volkanisme maka pada Zaman Tersier Kala Pliosen dicirikan oleh adanya susut laut. Hal ini menyebabkan makin menyempitnya luas lautan pada Kala Pliosen dan terjadilah perluasan daratan di Sulawesi, Irian, Jawa Timur bagian selatan serta melebarnya luas daratan, sebagai akibat selanjutnya geosinklin yang telah ada pada Kala Miosen menjadi sempit. Di daerah geosinklin tersebut secara setempat-setempat didapatkan batuan yang berumur Zaman Tersier Pliosen. Pengangkatan di akhir Pliosen tidak terjadi di semua bagian Indonesia. Kegiatannya yang bersamaan dengan perlipatan dan kegiatan volkanisme dijumpai di Sulawesi Timur dan Selatan, Kalimantan Timur, Tenggara dan Utara, Jawa Utara, Irian Utara dan Tengah, Aceh, Jambi, Palembang dan Buton. Yang hanya terangkat tetapi tidak terlipat adalah Sulawesi Tengah, Jawa Selatan, Bali Selatan, Lombok Selatan dan Sumatra Selatan bagian selatan.

Kejadian geologi khususnya sedimentasi selama Kala Pliosen di beberapa tempat adalah sebagai berikut:

Di Jawa terlihat makin meningkatnya kegiatan volkanisme, tetapi yang kini pindah dari Pegunungan Selatan ke lajur yang terletak di sebelah utaranya antara lain Pegunungan Kendeng dan Pegunungan Serayu. Sebaliknya Sepanjang utara Pulau Jawa pengendapan laut dalam geosinklin berjalan terus dengan pembentukan napal Globigerina dan batugamping.

Di Sumatra khususnya di Aceh terjadilah endapan bahan klastik kasar yang sebagian diendapkan dalam laut, sebagian dalam air payau darat, di atas lapisan lempungan yang masih terbentu etika Kala Miosen Dalam Geosinklin Jambi dan Palembang kini terjadi endapan batubara paralas pada lebar cekungan seluruhnya. Setelah itu menyusulah fasies yang terutama bersifat volkanik seperti halnya di Jawa. Suatu perkecualian terdapat di Bengkulu dengan genang laut dalam Pliosen Atas.

Di Kalimantan khususnya di sepanjang sungai Barito kini hanya diendapkan batuan-batuan volkanik.

Di Sulawesi terjadi perubahan-perubahan yang nyata. Pengendapan molassa di cabang timur Sulawesi berlangsung terus. Cekungan makin bergeser ke arah timur dan meliputi terutama Kepulauan Banggai dengan pembentukan batugamping koral. Di Sulawesi Utara terjadi kegiatan volkanisme yang lebih lanjut, meskipun lautan agaknya lebih luas bila dibanding dengan sekarang. Endapan-endapan laut Kala Pliosen dijumpai di berbagai tempat di Minahasa. Di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat mulai ada kegiatan volkanisme dengan pembentukan batuan-batuan yang tidak dijumpai di tempat lain di Indonesia kecuali di Gunung Muria di pantai utara Jawa.

Di Nusa Tenggara mulai nampak kegiatan volkanisme yang hebat, kecuali di Sumba dan Timor. Di Timor terjadi suatu terban yang membujur sepanjang pulau itu. Terban itu kemudian terisi dengan bahan rombakan dari pegunungan yang terangkat, diselingi dengan pembentukan gamping koral. Di Misool terbentuk pengendapan di sepanjang tepi utara yang terdiri dari sedimen paralas
dengan pembentukan batubara dan teras-teras koral.

Di Kepala Burung Irian Barat terdapat kegiatan volkanisme yang hebat dan mungkin merupakan lengkung gunung api di sepanjang tepi selatan Melanesia. Di Irian sendiri sedimentasi berlangsung terus dalam 3 buah geosinklin yang terpisahkan satu sama lain oleh pematang daratan atau lengkung pulau. Pegunungan salju yang ada di tengah merupakan daerah yang tererosi dan memberikan bahan sedimen yang akhirnya diendapkan dalam geosinklin tersebut, yang terdiri dari Geosinklin Mamberamo di sebelah utara, Geosinklin Idenberg di bagian tengah dan Geosinklin Digul-Fly, kesemuanya merupakan bagian dari Geosinklin Papua yang sangat besar. Demikian pembahasan tentang Zaman Tersier Dan Perkembangannya, baca juga pembahasan sejarah lainnya di www.majalahbatu.com

About Abdi Maulana

Abdi Maulana
Seorang ahli Teknik Geologi dan sangat senang bekerja didepan komputer. Membagi ilmu kepada orang lain merupakan kesenangan tersendiri. Gemar dengan software pemetaan dan terbiasa dengan software - software Geo. WORK EXPERIENCE : Jun 2012 - Sep 2012 : Head GIS Asistant at STTNAS Jun 2012 - Sep 2012 : Asisten Geofisika at STTNAS Jun 2013 - Sep 2013 : Head GIS Asistant at STTNAS Jun 2013 - Sep 2013 : Asisten Geofisika at STTNAS Mar 2014 - May 2014 : Head GIS Asistant at STTNAS September 2015 – March 2016 : GIS at Global Artha Karya (Bukit Berlian Group)

Check Also

harga-gps-garmin-2017

Harga GPS Garmin 2017

Harga GPS Garmin 2017 akan dibahas pada artikel ini, bagi anda para pemburu GPS Garmin …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Seal Online